Showing posts with label nasa. Show all posts
Showing posts with label nasa. Show all posts

Setelah 9 Tahun Diluncurkan Akhirnya New Horizons Capai Pluto

14 Juli 2015 adalah hari yang bersejarah bagi NASA, itu semua karena pada tanggal tersebut, pesawat ruang angkasa New Horizons akhirnya mencapai Pluto di pinggiran tata surya kita. Pertemuan New Horizons dengan Pluto terjadi sesuai dengan jadwal yang direncanakan.


Untuk mencapai orbit Pluto dan mengambil gambar bersama-sama dengan bulan-bulannya, wahana New Horizon menghabiskan hampir satu dekade perjalanan melalui ruang, dimana pada Januari 2006, pesawat ruang angkasa New Horizons memulai petualangan nya.

“Hello #Pluto! We’re at closest approach. Congrats to all!” Tulis badan antariksa AS NASA dalam sebuah posting Twitter mengumumkan keberhasilan misi New Horizons '.


Info terbaru menyebutkan bahwa terbang lintas tersebut membawa pesawat ruang angkasa New Horizons dalam jarak hanya 7.750 mil (12.470 kilometer) dari orbit Pluto, sehingga menjadikan pesawat ruang angkasa pertama yang mengunjungi sudut ini di lingkungan kosmik kita.

Planet kerdil Pluto berjarak sekitar 4,67 miliar mil (7,5 miliar kilometer) dari Bumi ketika berada pada orbit terjauh, dan pada jarak 2,66 miliar mil (4,28 miliar kilometer) ketika berada pada orbit terdekatnya.

Ilmuwan misi di NASA berjanji untuk merilis gambar New Horizons yang lebih lengkap, yang diperoleh selama terbang lintas bersejarah di planet Pluto, setelah New Horizons mengirimkan gambar-gambar kembali ke bumi.

Setelah terbang melewati planet Pluto dan bulan-bulannya, New Horizons akan pergi untuk mengunjungi objek lain di Sabuk Kuiper. Akhirnya, pesawat ruang angkasa tersebut akan meninggalkan tata surya dan masuk ke ruang antar bintang.

Planet kerdil Pluto pertama kali ditemukan bersembunyi di tepi Tata Surya oleh astronom Amerika Clyde Tombaugh pada tahun 1930. Clyde meninggal pada tahun 1997, pada usia 90 tahun, dan tidak bisa menyaksikan New Horizons memulai perjalanan epik nya menuju planet yang dia temukan.

NASA akan meluncurkan Satelit berbasis Android dengan hardware Nexus akhir tahun ini

Dihadapkan dengan anggaran yang semakin menyusut, NASA dalam banyak hal perlu mengubah dirinya jika berharap untuk terus memimpin dalam eksplorasi ruang angkasa. Nasa tengah menyiapkan sebuah satelit berbasis OS Android yang bakal mereka siapkan untuk program PhoneSat. Dalam program tersebut, Nasa memakai handphone Google Nexus sebagai otak komputer dari satelit tersebut. Satelit ini memang memiliki ukuran yang mini, yakni 10 sentimeter kubik. Ini adalah proyek pembangunan satelit dengan biaya ter-rendah dan ter-mudah yang pernah ditempatkan ke orbit.

PhoneSat

Nasa tengah mengembangkan dua versi dari satelit tersebut, yakni PhoneSat 1.0 dan PhoneSat 2.0. PhoneSat 1.0 didukung oleh Nexus One, sedangkan PhoneSat 2.0 memanfaatkan Nexus S. Nasa pun merencanakan untuk meluncurkan beberapa perangkat sekaligus dalam program ini. Ttotal biaya setiap satelit adalah $ 3.500. Itu adalah harga yang rendah merupakan elemen penting dari rencana NASA untuk terus mengembangkan teknologi satelit.

PhoneSat 1.0 akan hidup untuk jangka waktu singkat. PhoneSat 2,0 lebih luas kinerjanya berkat kemampuan hardware yang lebih cepat. Sebuah Nexus S akan berfungsi sebagai inti komputer, dengan upgrade lainnya termasuk radio dua arah S-band (yang memungkinkan para insinyur untuk mengontrol satelit dari bumi), panel surya untuk memungkinkan penerbangan lagi, dan transponder GPS. Menurut NASA, membangun fondasi PhoneSat akan memungkinkan desainer untuk lebih terjangkau dalam meluncurkan satelit untuk berbagai keperluan. Contohnya termasuk pengujian teknologi baru / komponen untuk penerbangan ruang dan melakukan pengamatan Bumi.

Selanjutnya, dengan merangkul teknologi konsumen dan berpegang teguh pada tujuan misi mendasar, NASA telah membuat total biaya setiap satelit di $ 3.500. Itu harga yang rendah merupakan elemen penting dari rencana lembaga untuk terus berkembang teknologi satelit di klip cepat - NASA mengibaratkan pendekatan mereka terhadap "rilis awal, lepaskan sering" Silicon Valley doktrin. Tiga NASA PhoneSats sistem (dua 1.0 dan 2.0 Unit tunggal) dijadwalkan untuk memulai kapal roket akhir tahun ini, jadi kita harus memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana layak smartphone bertenaga satelit yang kemudian.

Planet Kepler-22b “Bumi Baru" Yang Berpotensi Mendukung Kehidupan

Tim peneliti NASA mengumumkan temuan penting dalam upaya menguak keberadaan planet yang bisa mendukung kehidupan (habitable). Mereka mendapati planet lain yang berotasi cukup dekat dengan mataharinya, di orbit yang berpotensi mendukung kehidupan. Adalah Kepler-22b yang ditemukan oleh teleskop luar angkasa Kepler.


Para ilmuwan terus mengkaji temuan planet baru tersebut. Berdasarkan penelitian terbaru, Kepler-22b teridentifikasi besarnya dua kali ukuran bumi, dengan temperatur rata-rata 22 derajat Celcius. Jaraknya 600 tahun cahaya dari Bumi. Planet itu mengorbit di ‘habitable zone’ atau kawasan di ruang angkasa yang cukup jauh dari mataharinya memungkinkan keberadaan air di permukaannya , dan di duga juga memiliki atmosfer yang bisa mendukung kehidupan.


Seperti diketahui, teleskop Kepler yang diluncurkan NASA mengawasi 155.000 bintang untuk mencari keberadaan planet-planet layak huni. 

Bintang di sekitar orbit Kepler-22b, berada di konstelasi Lyra dan Cygnus, ukurannya lebih kecil dari matahari dan 25 persen lebih redup. 

Planet tersebut mengorbit bintangnya dalam waktu 290 hari, dengan jarak 15 persen lebih dekat dari jarak Bumi ke Matahari. Kepler-22b berada tepat di tengah zona habitasi bintang, sebuah kondisi yang sempurna bagi kehidupan. 

Sementara dua planet lainnya yang mengorbit pada bintang yang lebih kecil dan lebih dingin dibandingkan Matahari, baru-baru ini ditemukan di tepi zona layak huni mereka. Orbit mereka lebih mirip dengan  Mars dan Venus.

Laporan tentang penemuan tersebut akan dipublikasikan oleh Astrophysical Journal.



NASA, Foto Terbaru Permukaan Bulan

NASA memublikasikan gambar-gambar yang sebelumnya belum pernah diketahui khalayak seputar tiga titik pendaratan di Bulan. Foto-foto resolusi tinggi ini menampilkan gambar yang sangat detail atas situs eksperimen, jejak kaki para astronot, serta kendaraan di Bulan.

Dalam sebuah jumpa pers, Jim Green, Director Planetary Science Division NASA memperlihatkan foto-foto situs pendaratan Apollo 12, 14, dan 17 yang diambil oleh Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO).

“Kita bisa melihat jejak bekas langkah kaki para astronot dengan detail yang lebih baik dan melihat dari mana mereka mengambil sampel-sampel bebatuan di Bulan,” kata Noah Petro, geolog bulan di Goddard Space Flight Center NASA, seperti dikutip dari Huffington Post.

Menurut Mark Robinson, peneliti dari Arizona State University yang bertugas sebagai peneliti utama studi LRO, foto-foto baru ini berbeda dengan foto-foto permukaan Bulan yang sebelumnya pernah diambil.

Gambar dari Narrow Angle Camera pada ketinggian rendah memperdalam pengetahuan kita terhadap permukaan Bulan. Salah satu contoh adalah tajamnya bekas jejak kendaraan penjelajah di situs pendaratan Apollo 17. Pada foto terdahulu, jejak tersebut memang terlihat, namun kini garis paralel tajam terlihat di permukaan.

Foto-foto terbaru ini juga menggambarkan bahwa banyak puing-puing tertinggal di permukaan Bulan di saat para ilmuwan tengah memprihatinkan banyaknya sampah yang tertinggal di ruang angkasa, di orbit planet Bumi.

Adapun misi ke Bulan berikutnya NASA adalah mengirimkan sensor kembar untuk mempelajari gravitasi Bulan. Data yang dikumpulkan akan memberikan informasi bagi ilmuwan untuk lebih memahami bahan-bahan pembentuk Bulan, hingga sampai ke intinya. 

Teori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASA


Alat pengukur gravitasi milik Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, berhasil membuktikan dua asumsi kunci yang dicetuskan Albert Einstein dalam teori relativitas. Teori ini dicetuskan oleh Einstein pada 52 tahun yang lalu.
Misi The Gravity Probe-B (GP-B) diluncurkan pada tahun 2004 untuk mempelajari dua asumsi Einstein. Pertama, mengenai efek geodesi, atau adanya lengkungan ruang dan waktu di sekitar gravitasi. Kedua, asumsi mengenai frame-dragging, yang menjelaskan jumlah struktur ruang-waktu yang terpilin akibat rotasi suatu massa.    
Bayangkan bumi seakan-akan terbenam di benda seperti madu, ketika bumi berotasi, madu di sekitarnya akan membentuk pusaran yang mengikuti (swirl), begitu pula dengan ruang dan waktu. Demikian menurut analogi Francis Everitt, peneliti Stanford University yang juga peneliti utama GP-B.
Gravity Probe-B menggunakan empat gyroscope (pengukur orientasi) dengan tingkat ketepatan ultra tinggi untuk mengukur dua hipotesa gravitasi ini. Alat ini kemudian mengkonfirmasi kedua efek gravitasi dengan mengarahkan alat ini ke bintang yang disebut IM Pegasi, untuk menciptakan presisi yang netral.
Jika gravitasi tidak berdampak terhadap ruang dan waktu, maka gyroscope GP-B akan menunjuk ke arah yang sama saat probe itu berada di kutub orbit sekitar bumi. Bagaimana pun, gyroscopes memiliki perubahan kecil tapi terukur terhadap arah putaran daya tarik bumi.
"Hasil misi ini akan memiliki dampak jangka panjang terhadap teori yang dimiliki ahli fisika," kata Bill Danchi, ahli antrofisika dan pengamat di Markas Nasa di Washington.
"Setiap teori yang meragukan teori Einstein dalam hal relativitas umum akan mencoba untuk mencari hasil pengukuran yang tepat dari yang telah dilakukan GP-B," lanjut Danchi.
Hasil ini menjadi proyek terpanjang yang dilakukan NASA, yang telah terlibat dalam penelitian gyroscope untuk relativitas sejak 1963.   
Penelitian dan percobaan yang dilakukan selama berpuluh tahun ini telah merintis teknologi untuk mengendalikan gangguan yang bisa mempengaruhi pesawat ulang-alik, seperti daya tarik aerodinamis, medan magnet, dan variasi hawa panas. Lebih jauh, misi pelacak bintang dan gyroscope NASA merupakan alat dengan presisi tertinggi yang pernah didesain dan diproduksi.   

2019, Astronot Bisa Mendarat di Asteroid

2019, Astronot Bisa Mendarat di Asteroid
Sebuah pesawat NASA yang direncanakan menjadi kendaraan antar jemput ke stasiun ruang angkasa internasional (international space station - ISS) dipamerkan hari ini.

Seperti halnya pesawat biasa, pesawat komersial ini nantinya akan mengangkut para astronot yang ingin berkunjung ke stasiun ruang angkasa pulang pergi.

Pesawat itu bernama Orion. Ia akan beroperasi secara komersial setelah projek senilai US$100 miliar (setara Rp870 triliun) ini ditandatangani oleh Presiden AS Barack Obama. Jika berhasil, ISS bisa menjadi opsi tempat persinggahan baru bagi manusia saat berlibur.

Di sela pameran pesawat tersebut hari ini, NASA juga mengutarakan harapannya kalau pesawat ruang angkasa tersebut juga dapat menjalankan misi jangka panjang untuk meneliti asteroid setidaknya mulai tahun 2019. Menuju ke sana, sementara ini Orion hanya akan mendukung misi perjalanan ke ISS yang berada di atas orbit Bumi.

Untuk memfasilitasi ini, seorang ahli desain bernama Lockheed Martin membangun area ujicoba yang sangat besar di Waterton Canyon, Denver Selatan, di mana Orion bisa berlatih manuver.

Sekadar diketahui, Lockheed Martin ditunjuk sebagai kontraktor utama NASA untuk proyek Orion. Perusahaan itu mengaku telah merogoh kocek sebesar US$35 juta (setara Rp304 miliar) untuk membangun fasilitas uji coba seluas 41.000 meter persegi. Fasilitas ini disebutnya Space Operations Simulation Center.

Sejatinya, Orion merupakan bagian dari misi ke bulan yang disetujui mantan Presiden AS George W Bush senilai US$100 miliar (setara Rp870 trilun). Misi itu bernama Constellation.

Namun, tahun lalu, Presiden AS Barack Obama membatalkan misi tersebut. Pasalnya, menurut Obama, program luar angkasa tidak hanya berfokus pada teknologi roket yang lebih canggih.

Selang dua bulan, Orion kembali dioperasikan. Tidak untuk melanjutkan misi yang sama, tetapi sebagai kendaraan lepas menuju stasiun ruang angkasa.

NASA kabarnya sedang mempertimbangkan untuk menambah setidaknya dua pesawat ruang angkasa lagi yang didesain terbang rendah di orbit Bumi untuk melayani jasa antar jemput ke stasiun ruang angkasa. Misi jangka panjangnya adalah untuk mendaratkan manusia ke asteroid di ruang angkasa.

Penerbangan antariksa pertama Orion diharapkan mulai tahun 2013. Sementara, misinya untuk mendaratkan manusia di atas asteroid dengan dua pesawat baru lainnya akan dimulai enam tahun kemudian. 

Peneliti NASA Temukan Bukti Adanya Alien di Meteorit

Ilmuwan NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat), Richard B Hoover, menunjukkan bukti adanya makhluk hidup dalam meteorit. Peneliti dari Pusat Penerbangan Marshall NASA itu mengklaim  bahwa ia dan timnya menemukan bukti makhluk hidup berupa fosil bakteri langka, yang hidup di dalam bongkahan batu dari luar angkasa itu.

Seperti dilansir CBSNews.com, Hoover menuliskan bukti itu dalam jurnal terbaru, Journal of Cosmogoly edisi Maret 2011. Hoover berpendapat bahwa hasil uji pada koleksi sembilan meteorit yang dinamakan CI1 Meteorit Carbonaceous, itu menunjukkan bahwa ada bakteri yang berasal dari daerah asal meteor.

"Filamen kompleks yang ditemukan di dalam meteorit CI1 Carbonaceous menunjukkan ada mikrofosil bakteri 'pribumi' dari cyanobacteria," kata Hoover dalam tulisannya.

Cyanobacteria merupakan bakteri biru-hijau yang masuk golongan bakteri autotrof fotosintetik. Dia dapat menghasilkan makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari secara kimia.

Menurut Hoover, materi yang ditemukan yang dideteksi sebagai cyanobacteria itu kemungkinan besar menunjukkan adanya kehidupan mahkluk hidup di luar bumi. Dan Hoover tidak menampik bahwa itu adalah kesimpulan akhir dari penelitiannya.

Sontak saja kesimpulan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan ilmuwan. Tetapi, kesimpulan Hoover ini memperkuat bukti adanya kehidupan di luar bumi. Setelah sebelumnya sejumlah ahli menegaskan bahwa ada unsur air dalam meteorit.

Sementara, News.com.au menulis, penelitian yang dilakukan Hoover ini hanya melalui proses yang sangat sederhana. Batu meteor itu disimpan dalam tempat yang steril sebelum diuji. Pengujian dilakukan dengan alat-alat standar peneliti: mikroskop elektron dan emisi elektron mikroskop.

Hasilnya, Hoover menemukan mikroogranisme yang jenisnya tidak jauh berbeda dengan salah satu jenis bakteri biasa yang ada di bumi. "Hal yang menarik adalah, fosil-fosil itu bentuknya mudah dikenali dan jenisnya sangat dekat dengan yang ada di bumi," kata Hoover.

Robonaut R2 Robot NASA Dibuat Selama 15 Tahun

Robot humanoid milik NASA, yang menandai perjalanan luar angkasa pertamanya bersama misi terakhir pesawat ulang alik Discovery Sabtu silam, dilaporkan telah gagal menjalani misinya berjalan di stasiun ruang angkasa atau international space station (ISS).

Dua astronot NASA, Steve Bowen dan Alvin Drew, baru saja menyudahkan misi ruang angkasanya pada hari Senin ketika robot humanoid itu berhenti bekerja sesampainya di pesawat kubah 7 jendela.

Padahal, astronom membawanya untuk membantu mereka menginstal ekstensi ke pusat listrik (power cable). Para astronot juga memerlukan bantuannya ketika memindahkan modul pompa seberat 800 pound (setara 362 kilogram) untuk sebuah platform eksternal di mana ia akan "menumpang" untuk kembali ke Bumi pada misi selanjutnya. Namun, kedua misi itu gagal dilakukan.

Bowen dan Drew, yang telah menjalani misi ke-200 sebagai astronot, juga dijadwalkan untuk menginstal kamera di rangka eksternal dan membubuhkan dua ekstensi ke trek sepanjang rangka. Namun, misi ini belum diselesaikan.

Pesawat ulang alik milik NASA, Discovery, telah tiba di ISS atau stasiun ruang angkasa, Sabtu 26 Februari 2011. Ini merupakan kali terakhir pesawat berawak itu mengangkut manusia ke luar angkasa sejak Agustus tahun 1984.

Discovery membawa enam awak astronot dalam misi terakhirnya. Dipimpin oleh Steve Lindsay, pesawat yang telah menjalankan 38 misi itu mengangkut pilot Eric Boe, Alvin Drew, Michael Barratt, Nicole Stott, dan Steve Bowen.

Mereka membawa robot yang menyerupai fisik manusia. Bernama Robonaut R2, ia dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Nantinya, ia akan melakukan pekerjaan-pekerajaan yang berisiko tinggi bagi manusia, terutama berjalan di luar angkasa.

Astronom Temukan Lubang Corona di Matahari

Sebuah satelit ruang angkasa telah mendeteksi dua lubang berukuran besar di Matahari. Lubang ini diyakini menjadi jalan bagi material dan gas milik bintang itu untuk keluar ke alam bebas.

Lubang yang disebut sebagai ‘coronal hole’ tersebut merupakan celah di antara medan magnet Matahari. Celah itu melubangi lapisan atmosfir luar yang super panas – disebut juga dengan corona – sehingga memungkinkan gas panas dari inti Matahari terlepas ke luar.

Lubang itu terdeteksi oleh satelit Hinode yang khusus memantau aktivitas Matahari. Adapun kedua lubang tersebut terdeteksi dari foto-foto yang diambil pada 1 Februari lalu.

Pada gambar yang ditangkap, lubang terdapat di bagian tengah atas di dekat kutub Matahari, adapun lubang lain berada di bagian bawah. Lubang juga terlihat lebih gelap dibanding bagian lain dari Matahari. Namun ada alasan untuk itu.

Suhu lubang itu relatif dingin dibandingkan dengan kawasan aktif di sekelilingnya. Temperatur lebih dingin itu membuat lubang tampak lebih gelap di gambar, kata juru bicara NASA, seperti dikutip dari Space.com

Hinode Solar Observatory merupakan satelit pemantau milik Jepang yang telah mengamati bintang tersebut sejak diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Satelit itu didesain untuk mempelajari medan magnet Matahari untuk membantu ilmuwan dalam memahami bagaimana energi disebarkan melalui lapisan berbeda milik atmosfir Matahari.

Misi pemantauan yang dilakukan Hinode sendiri merupakan misi gabungan antara Japan Aerospace Exploration Agency, Japan’s National Astronomical Observatory, NASA dan European Space Agency.

NASA : Gambar Spektakuler Matahari dalam 3 Dimensi


Dari Bumi, Matahari terlihat bagai bola kuning yang menyilaukan. Meski menampilkan wajah beda, foto-foto sang surya  yang diambil satelit luar angkasa masih dua dimensi.

Dan terbukti: Matahari berbentuk bola. Satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berhasil mengambil gambar Matahari secara tiga dimensi.

"Ini adalah untuk pertama kalinya kita bisa melihat aktivitas manusia secara utuh dalam tiga dimensi," kata Angelos Vourlidas, ilmuwan STEREO di Laboratorium Angkatan Laut, Washington, DC, seperti dimuat situs NASA.

Ini, tambah dia, adalah peristiwa besar dalam bidang fisika Matahari. "STEREO menguak wajah asli Matahari-- bola plasma panas dengan medan magnet mirip tenunan rumit," tambah dia.
NASA mengirimkan dua satelit Solar Terrestrial Relations Observatory (STEREO) ke dua posisi Matahari secara berlawanan. Masing-masing mengambil foto Matahari 180 derajat. Dua gambar itu lalu digabungkan menjadi satu, membentuk bola merah membara.

Untuk merilisnya ke publik, NASA memilih waktu yang bertepatan dengan momentum laga Superbowl saat Greenbay Packers melawan Steelers.

Dengan melihat gambaran utuh Matahari diharapkan akan berperan dalam pemantauan cuaca Bumi. Juga diyakini akan membantu terwujudknya impian manusia mengirimkan armada penjelajah langit ke seluruh tata surya.  Untuk melihat video utuh Matahari lihat di sini

STEREO diluncurkan pada 2006, tugasnya adalah untuk melacak aliran energi dan materi  Matahari ke Bumi. Satelit ini juga menyediakan gambar sistem Matahari-Bumi yang unik dan revolusioner. Misi mengambil gambar utuh Matahari secara tiga dimensi telah dilakukan sejak 2007.

Pada 2009, si kembar STEREO berhasil mengambil gambar struktur letusan di korona Matahari (coronal mass ejections) yang diyakini bisa berakibat negatif ke Bumi. Diperkirakan terjadi 2013 mendatang, peristiwa badai Matahari diperkirakan akan mengganggu komunikasi, navigasi, satelit, dan pembangkit listri di Bumi. 
STEREO dibangun dan didesain oleh para ilmuwan dari sejumlah negara, AS, Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, dan Swiss.

Kepada Telegraph, ilmuwan Inggris Dr Chris Davis yang terlibat dalam proyek STEREO mengatakan hasil kerja dua satelit itu sangat memuaskan. "Saya sangat gembira langkah maju ini, saya membayangkan di masa depan, observasi Matahari akan makin unik."

Sementara, pada The Guardian, ilmuwan Laboratorium Rutherford Appleton, Oxfordshire, Richard Harrison mengatakan hasil gambar STEREO akan mengubah persepsi orang terhadap Matahari.

"Matahari bukan lingkaran kuning seperti banyak orang kira," kata dia. "Ini sangat kompleks, dengan gambaran tiga dimensi, esensi untuk cara kerjanya," kata dia. (Daily Mail)

NASA: Film Kiamat '2012' Merupakan Pornografi Bencana


Akhir 2009 lalu, dunia sempat digegerkan Film '2012' besutan sutradara, Roland Emmerich. Didasarkan pada penafsiran akhir kalender Bangsa Maya, film itu menggambarkan kehancuran Bumi atau kiamat yang bakal terjadi pada tahun 2012.

Film itu laris manis ditonton jutaan orang dan mengundang polemik luas. Namun, lepas dari popularitasnya dan uang US$800 juta yang berhasil diraup, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjuluki '2012' sebagai "film bergenre fiksi ilmiah paling buruk".  Tak realistis.

Film itu, menurut NASA, bahkan bisa disebut sebagai "pornografi bencana".

NASA: Citra Terakhir Bumi di Tahun 2010

Satelit Geostationary Operational Environmental Satellite (GOES-13)  milik Badan Antariksa Ameriksa Serikat (NASA) mengabadikan foto terakhir Amerika Utara dan Selatan di tahun 2010, ketika dunia menanti datangnya tahun baru 2011.

GOES-13 menangkap citra Bumi dalam piringan penuh pada Kamis 30 Desember 2010. Gambar menakjubkan ini menunjukkan awan menutupi area bertekanan redah di atas Midwestern, AS dan Rocky Mountains, Colorado.

Project Super Komputer Milik NASA

Super Komputer NASA
Superkomputer yang dibuat di Naval Oceanographic Office Major Shares Resource Center, Mississippi ini menggunakan 3.000 mikroprosesor 64 bit dengan kemampuan setara 368 buah komputer desktop yang digabung menjadi satu. "Kalau sudah selesai, superkomputer yang menggunakan operating system (OS) Unix IBM alias AIX ini akan memiliki kecepatan 20 teraflop atau setara dengan 20 triliun penghitungan matematik per detik," terang Debra Goldfard, wakil presiden produk IBM. "Kemampuannya itu seperti kuda yang sedang berlari kencang," imbuhnya. Dengan kecepatan itu, kita bisa menghitung deretan angka yang bila dilakukan dengan kalkulator makan waktu 1,2 juta tahun. Sedangkan dengan superkomputer ini, hanya butuh waktu 1 detik.

Sementara itu, para ilmuwan NASA menggandeng perusahaan dari Lembah Silikon untuk menciptakan superkomputer dengan OS Linux. Kalau sudah selesai nanti, superkomputer berjulukan Space Exploration Simulator itu akan mempunyai kemampuan mengolah informasi 10 kali lebih cepat dibanding superkomputer yang saat ini dimiliki oleh NASA.

"Superkomputer baru ini nantinya memungkinkan para ilmuwan menjalankan simulasi model komputer yang rumit. Seperti penelitian formasi planet atau fisika matahari, atau perhitungan pesawat ulang-alik yang kembali ke bumi," terang Walter Brooks, kepala divisi NASA Advanced Supercomputing (NAS).

Ames Research Center NASA di Mountain View, California yang menjadi markas besar NAS tengah membuat superkomputer baru sebagai bagian kerjasama Project Columbia yang dibantu Silicon Graphics, Inc. (SGI) dan produsen ternama prosesor komputer Intel.

Superkomputer ini akan menghubungkan 20 komputer canggih SGI Altix, yang masing-masing memiliki 512 prosesor, dilengkapi dengan 500 terabyte media penyimpan (storage) lokal. Setelah semua komputer tersebut dihubungkan, sejumlah 10.240 prosesor Intel Itanium 2 akan mentenagai superkomputer Space Exploration Simulator ini untuk melakukan berbagai penelitian. Seperti pemodelan pesawat ulang-alik, perubahan iklim, keselamatan penerbangan luar angkasa dan aeronautika.

"Ini memungkinkan NASA memproses misi kritis penerbangan yang kembali ke bumi atau pergi, sembari membangun pondasi kokoh eksplorasi ruang angkasa masa depan," terang Administrator NASA Sean O'Keefe.

Saat menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat ruang angkasa Columbia misalnya. Aktivitas tersebut hampir mengambil sebagian besar kemampuan pemrosesan superkomputer NASA sehingga penelitian sains luar angkasa dan bumi sempat terpinggirkan.

Dengan superkomputer baru ini, tugas penanganan keselamatan pesawat ulang-alik dan riset sains bisa dilakukan sekaligus oleh superkomputer. Bahkan, NASA merencanakan memberi porsi akses tertentu kepada komunitas ilmuwan dan insinyur di luar NASA untuk melakukan penelitian mereka sendiri dengan menggunakan superkomputer Space Exploration Simulator.



Spesifikasi Super Komputer NASA

Manufacturer - SGI

Nodes Type Speed Cache
1 Altix 4700 (512 cores) Montecito 1.6 GHz 9MB
1 Altix 4700 (2048 cores) Montecito 1.6 GHz 9MB
2 Altix 4700 (1024 cores) Montvale 1.6 GHz 9MB
4 Total Compute Nodes (4,608 Total Cores)

System Architecture

* 40 compute node cabinets
* 30 teraflop/s theoretical peak (Original 10,240 system - 63 Tflop/s)

Subsystems

* 2 front-end nodes

Memory

* Type - double data rate synchronous dynamic random access memory (DDR SDRAM)
* Per Processor (core) - 2GB
* Total Memory - 9TB

Interconnects

* NUMALink interconnected single-system image compute nodes
* Internode
o InfiniBand - 4x (Single Data Rate, Double Data Rate)
o 10Gb Ethernet LAN/WAN interconnect
o 1Gb Ethernet LAN/WAN interconnect

Storage

* Online - DataDirect Networks & LSI RAID, 1PB (raw)
o 1 SGI CXFS domains
o Local SGI XFS fileystems
* Archival - Attached to high-end computing SGI CXFS SAN filesystem

Operating Environment

* Operating system - SUSE Linux Enterprise
* Job Scheduler - PBS
* Compilers - Intel Fortran, C, SGI MPT


Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Zero Devices, PC Terkecil di DuniaPerbedaan PC Windows dan Mac OSVirus Komputer Paling Canggih DitemukanPerkembangan Perangkat Keras KomputerSemua Tentang RAM (Random Access Memory)Motherboard Mini-ITX

Citra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA

Citra Jakarta dari ruang angkasa
Jakarta sudah terlalu sumpek dan padat. Tak meratanya pertumbuhan ekonomi membuat Jakarta bak magnet yang menarik jutaan pendatang dari daerah lain tiap tahunnya.

Makin banyaknya penduduk, makin besar juga kebutuhan untuk rumah, pasar, dan juga jalan.


Akibatnya fatal. Bencana mengancam Jakarta. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) bahkan memprediksi Jakarta Utara tenggelam tahun 2030. Sedangkan untuk Jakarta Selatan ancaman menghadang di tahun 2050.

Ini adalah akibat pelanggaran aturan tata ruang, sistem drainase yang buruk, serta tingginya penggunaan air tanah di kawasan padat penduduk dan perkantoran.

Makin padatnya Jakarta sempat direkam satelit Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dari luar angkasa.

Foto pertama diambil NASA pada tahun 1976, saat penduduk Jakarta masih 6 juta jiwa. Yang kedua diambil pada 1989 saat penduduk Jakarta berjumlah 9 juta, dan pada 2004 saat penduduk berjumlah 13 juta.

Foto yang dihasilkan satelit NASA memanfaatkan cahaya inframerah yang dipantulkan permukaan Bumi. Vegetasi alias tumbuh-tumbuhan memantulkan cahaya inframerah sangat kuat tampak berwarna merah. Sementara, daerah perkotaan terlihat berwarna hijau muda.

Tiap foto yang ditampilkan mewakili luas 49x49 kilometer persegi, yang terletak di  6,2 derajat Lintang Selatan, 106,8 derajat Bujur Timur.

Dalam gambar tahun 1976 yang diambil pemindai Landsat MSS, menunjukkan, wilayah perkotaan saat itu berada di wilayah tengah gambar dan sepanjang pantai. Sisanya dipadati tumbuhan.


Citra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA

Tiga belas tahun kemudian, pada 1989, Landsat menangkap ekspansi wilayah perkotaan terjadi di wilayah tengah dan mengikis tetumbuhan.

Citra Jakarta Tahun 1976

Sementara, dalam foto terakhir yang diambil instrumen Spaceborne Advanced Emisi Termal dan Refleksi Radiometer (ASTER) di satelit Terra NASA, pada tahun 2004, terlihat ekspansi perkotaan meluas ke barat.

Hampir keseluruhan gambar berwarna hijau terang, hanya noktah-noktah merah kecil yang tersisa. Ini berarti kantong vegetasi makin langka di Jakarta. Jika 2004 lalu sudah begitu gersangnya, bayangkan wajah Jakarta saat ini dari luar angkasa!


Citra Jakarta Tahun 1976 dan 2004


Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Kutub Utara dan Selatan Bumi Bergeser Tiap 200 Ribu Tahun
Fosil Berusia 30 Ribu Tahun di Siberia "Kerabat" Orang Papua
DNA Mitokondria Buktikan Gajah Afrika Terdiri dari Dua Spesies

Peneliti Fosil Temukan Bukti Pemusnahan MassalTeori Baru Lahirnya Alam Semesta
2010, Tahun Dengan Cuaca Terpanas Sepanjang Sejarah
Misteri-Misteri Tak Terpecahkan di Bidang Sains
Manfaat Gempa Bumi Bagi Kehidupan
Memprediksi Gempa Bumi dari Sinar Matahari
Skala Tsunami Bisa Diprediksi Menggunakan GPS
Moyang Manusia Modern Kawini Neanderthal
Cahaya Lampu Kota Dapat Mencemari Udara?
Pembangkit Listrik Tenaga Matahari Malam Hari
Menginap di Hotel Terbuat dari Es
Picturesque Bugarach, Desa Ini Diyakini Sarang Alien
Al-Battani
CO & CO2
TANAH LONGSOR




Eksperimen NASA Kembangkan Pesawat Hipersonik

Pesawat Hipersonik
NASA berencana menganggarkan US$5 juta atau sekitar Rp44 miliar per tahun dalam jangka tiga tahun ke depan untuk mengembangkan kendaraan hipersonik yang bisa terbang hingga 5 kali kecepatan suara.

Jika pesawat tersebut digunakan di penerbangan komersial, maka ia tak lagi perlu 21 jam untuk menempuh perjalanan antara New York dan Sydney. Cukup 2 jam saja. Selain itu kabarnya, teknologi tersebut nantinya akan bisa diimplementasikan pada pesawat komersil.

Namun demikian, tujuan utama proyek ini adalah untuk mencari cara bagaimana manusia bisa pergi ke ruang angkasa dan ke planet seperti Mars tanpa menggunakan roket.


Sebagai ganti roket, kendaraan itu akan menggunakan mesin yang memanfaatkan udara, seperti layaknya pesawat terbang komersial. Meski penerbangan hipersonik pernah diraih beberapa kali sebelumnya, pendekatan ini merupakan teknologi baru. Pesawat akan mampu take off dan landing layaknya pesawat penumpang, tetapi dengan tenaga yang lebih besar.

Menurut proposal NASA yang dikutip dari TG Daily,  pesawat tersebut nantinya harus dapat digunakan berulang kali. Untuk itu, material baru perlu dikembangkan sehingga dapat mengatasi temperatur yang sangat tinggi.

Disebutkan, masalah utama yang menjadi hambatan dalam mengembangkan pesawat hipersonik adalah overheat. Dan berhubung pesawat akan terbang dan mendarat seperti layaknya pesawat biasa, peralihan dari kecepatan biasa ke kecepatan hipersonik dilakukan setelah pesawat meninggalkan atmosfir. Untuk itu, kontrol dan manajemen energi sangatlah penting.

Sebagai informasi, pesawat hipersonik tercepat saat ini adalah X51-A Waverider yang juga dikembangkan NASA. Pesawat yang mengudara dengan bantuan pesawat B-52 bomber ini mampu mencapai kecepatan Mach 6 (sekitar 7.350 kilometer per jam) selama sekitar 3 menit.

Selain itu, NASA juga punya X43-A, pesawat hipersonik yang mampu terbang dengan kecepatan nyaris 7 kali kecepatan suara (kecepatan suara mencapai 1.236 kilometer per jam di suhu 20 derajat Celcius).

Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Mars Rover Curiosity, Robot Paling Canggih Keingintahuan Manusia Mendarat di MarsNASA akan meluncurkan Satelit berbasis Android dengan hardware Nexus akhir tahun iniProject Super Komputer Milik NASANASA: Film Kiamat '2012' Merupakan Pornografi BencanaIlmuwan: Penelitian NASA Salah Mengenai Bakteri yang Hidup Dengan ArsenikNASA, Foto Terbaru Permukaan BulanTeori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASARobonaut R2 Robot NASA Dibuat Selama 15 TahunNASA : Gambar Spektakuler Matahari dalam 3 DimensiSpace Pictures This Week: Bow Shock, Mars, Jupiter, Moon, MoreGreenland & Antartika Mencair Melaju CepatPlanet Kepler-22b “Bumi Baru" Yang Berpotensi Mendukung KehidupanCitra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA

Ternyata Bulan Mempunyai Cairan Inti Mirip Bumi

Ternyata Bulan Mempunyai Cairan Inti Mirip Bumi

Perkembangan pesat teknologi memungkinkan manusia menyingkap rahasia bulan. Ternyata berdasarkan sensor seismik, bulan memiliki inti cair serupa dengan Bumi.

Informasi ini berdasarkan sinyal dari sensor seismik kiri permukaan bulan yang tertangkap oleh astronot Appolo pada 1971. Ilmuwan NASA berhasil menerapkan teknik seismologi kontemporer lewat data dari sensor yang ditempatkan oleh program luar angkasa AS.


Studi terbaru itu menunjukakn bahwa bulan memiliki inti yang solid mengandung zat besi yang kaya dengan radius hingga 150 mil. Materi ini berbentuk cair, terutama inti luar besi yang menggapai hingga radius 205 mil. Yang berbeda dengan Bumi, inti cair bulan memiliki lapisan pembatas di sekitarnya dengan jarak setidaknya 300 mil.

Data itu juga menyoroti evolusi dinamo bulan, proses alami yang memungkinkan bulan menghasilkan medan magnet yang kuat. Pengungkapan terperinci dari inti bulan sangat penting untuk mengembangkan model akurat dari pembentukan Bulan. Inti suatu objek luar angkasa pada dasarnya berisi sebagian kecil unsur ringan seperti belerang dan oksigen.

Penelitian terbaru itu tercantum di jurnal online Science. Ilmuwan menggunakan data ekstensif hasil pengumpulan misi Apollo milik Amerika Serikat.



Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
NASA, Foto Terbaru Permukaan Bulan570-megapixel Dark Energy Camera berharap untuk membuka rahasia alam semestaJupiter cukup besar untuk menelan semua planet di tata suryaMars Rover Curiosity, Robot Paling Canggih Keingintahuan Manusia Mendarat di MarsPlanet-Planet Pemecah Rekor di Alam SemestaGalaksi Bimasakti Dipenuhi 160 Miliar PlanetPlanet Kepler-22b “Bumi Baru" Yang Berpotensi Mendukung KehidupanFakta Mengerikan Seputar Perjalanan ke Ruang AngkasaDitemukan Awan Air Terbesar di Jagad RayaUkuran Alam Semesta 250 Kali Lipat Lebih LuasTeori Relativitas Einstein yang Dibuktikan NASAFoto Planet Merkurius dari Jarak 193 KmInfografis Yuri Gagarin Manusia Pertama Yang Berhasil Menembus Luar AngkasaDitemukan Medan Magnet, Jalan Lolos dari Black HoleMenakjubkan, FOTO Close-UP Matahari yang SesungguhynaCitra Jakarta Tahun 1976 dan 2004 Versi NASA