Showing posts with label cyber crime. Show all posts
Showing posts with label cyber crime. Show all posts

Awas Skimming,Teknik Pembobolan Kartu ATM

cyber crime, ATM, Skimming, penipuan kartu ATM, pembobolan krtu atm

Pembobolan kartu ATM kembali terjadi, dan kini yang menjadi korbannya adalah ribuan nasabah Bank Mandiri. Melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit/debit dianggap lebih aman dan mudah daripada harus repot-repot membawa uang tunai karena beresiko.

Namun, kartu kredit atau kartu debit juga tak lepas dari ancaman kejahatan. Ada teknik penipuan yang lebih canggih dan berbahaya yang dilakukan pelaku kejahatan di luar sana. Pelaku hanya perlu membeli sebuah perangkat yang harganya hanya berkisar US$ 500 di internet.

Teknik penipuan ini dikenal dengan nama card skimming. Teknik penipuan seperti ini sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu dilakukan, dan cukup menghebohkan.

Baru-baru ini ribuan nasabah Bank Mandiri diketahui menjadi korban kejahatan skimming. Demi keamanan, Bank Mandiri terpaksa memblokir kartu Automated teller Machine (ATM) nasabah yang menjadi korban dan selanjutnya diminta untuk mengganti kartu baru.


Apa itu card skimming?

Card skimming adalah tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Skimming adalah salah satu jenis penipuan phishing.

Pelaku bisa mendapatkan data nomor kartu kredit atau debit korban menggunakan metode sederhana, seperti halnya fotokopi atau metode yang lebih canggih seperti menggunakan perangkat elektronik kecil (skimmer) untuk menggesek kartu lalu menyimpan ratusan nomor kartu kredit korban.

Tujuan pelaku melakukan penipuan ini adalah untuk mencuri rincian data sehingga mereka dapat mengakses rekening korban. Modus penipuannya biasanya dengan menggesekkan kartu kredit atau debit melalui card reader, untuk merekam informasi dari strip magnetik kartu Anda.

Setelah pelaku berhasil 'membaca' kartu Anda, mereka nantinya dapat membuat kartu kloningan palsu dengan menggunakan data-data Anda. Tentu saja ini berbahaya, karena pelaku dapat menaikkan tagihan rekening Anda. Data yang berhasil direkam juga bisa dijual ke para scammer lain di pasar gelap.

Card skimming juga merupakan salah satu cara bagi pelaku penipuan untuk mencuri informasi pribadi dan menggunakannya untuk melakukan penipuan identitas. Dengan mencuri informasi pribadi dan nomor rekening, pelaku dapat meminjam uang atau mengambil pinjaman dengan menggunakan nama Anda.

Selain di restoran atau bar, card skimming juga dapat terjadi di pom bensin dengan menggunakan perangkat card-reading pihak ketiga.


Cara Kerja Skimming Kartu ATM

Teknik pembobolan karu ATM nasabah melalui teknik skimming pertama kali teridentifikasi pada 2009 lalu di ATM Citibank, Woodland Hills, California. Saat itu diketahui jika teknik skimming dilakukan dengan cara mengggunakan alat yang ditempelkan pada slot mesin ATM (tempat memasukkan kartu ATM) dengan alat yang dikenal dengan nama skimmer. Modus operasinya adalah mengkloning data dari magnetic srtripe yang terdapat pada kartu ATM milik nasabah.

Sebagi informasi, magnetic stripe adalah garis lebar hitam yang berada dibagian belakang kartu ATM. Fungsinya kurang lebih seperti tape kaset, material Ferromagnetic yang dapat dipakai untuk menyimpan data (suara, gambar, atau bit biner).

Secara teknis, cara kerjanya mirip CD writer pada komputer yang mampu membaca CD berisi data, kemudian menyalinnya ke CD lain yang masih kosong. Dan isinya dapat dipastikan akan sama persis dengan CD aslinya.

Skimmer bukan satu-satunya alat yang digunakan oleh para pelaku skimming. Para pelaku biasanya juga memanfaatkan kamera pengintai (spy cam) untuk mengetahui gerakan jari nasabah saat memasukkan PIN kartu ATM. Namun kamera pengintai sudah jarang digunakan seiring dengan semakin canggihnya alat skimmer yang digunakan para pelaku.

Alat ini sekarang kian canggih, dan kini telah beredar pula jenis skimmer yang dilengkapi dengan kemampuan membaca kode PIN kartu ATM. Dan hebatnya lagi, skimmer jenis ini juga bisa langsung mengirimkan data-data yang didapat via SMS pada pelaku.

Alat skimmer diketahui dapat dibeli pasar-pasar gelap yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas dengan banderol mulai dari US$ 500. Malah tak sedikit pula para pelaku yang sudah ahli dapat memproduksinya sendiri dengan mudah.|


Berikut adalah sistematis cara kerja pelaku skimming :

1. Pelaku mencari target mesin ATM yang ingin dipasangai skimmer. Kriteria yang dicari adalah mesin ATM yang tidak ada penjagaan kemanan, sepi dan tidak ada pengawasan kamera CCTV.

2. Pelaku memulai aksi pencurian data nasabah dengan memasang alat skimmer pada mulut mesin ATM.

3. Melalui alat skimmer para pelaku menduplikasi data magnetic stripe pada kartu ATM lalu mengkloningnya ke dalam kartu ATM kosong. Proses ini bisa dilakukan dengan cara manual, di mana pelaku kembali ke ATM dan mengambil chip data yang sudah disiapkan sebelumnya. Atau bila pelaku sudah menggunakan alat skimmer yang lebih canggih, data-data yang telah dikumpulkan dapat diakses dari mana pun. Umumnya data dikirimkan via SMS.


Cara Menghindari Skimming Kartu ATM

Skimming ATM ini tentu merugikan para nasabah. Jika tidak ingin menjadi salah satu korban, coba ikuti tips ini:

1. Hati-hati saat menekan PIN

Meski tidak ada orang lain saat berada di ATM, Anda tetap harus selalu waspada. Kamera tersembunyi bisa saja sedang memantau aktivitas, termasuk mengetahui password Anda.

Karena itu, saat menekan PIN ATM, Anda harus menutupnya dengan tangan. Hal ini bisa mencegah pencuri mengetahui PIN Anda.

2. Perhatikan lokasi ATM

Hindari menggunakan ATM di daerah redup dan malam hari. Hindari ATM di toko-toko ritel atau restoran, hal ini karena perangkat skimming pernah ditemukan di ATM yang berada di sebuah toko populer di Florida.

Selain itu, ATM di bandara juga rentan terhadap aksi pencurian. ATM yang berada di luar Bank juga menjadi target pencuri. Sebaiknya juga jangan terlalu sering ke ATM. Semakin sering ke ATM, maka akan ada resiko.

3.  Periksa saldo rekening secara teratur

Anda harus memeriksa saldo rekening secara teratur. Dengan begitu Anda bisa segera mengetahui jika ada transaksi penarikan uang yang aneh. Pengguna kartu kredit biasanya lebih mudah mengetahui bahwa telah menjadi korban kejahatan. Karena tagihan kartu kredit biasanya selalu dikirimkan secara teratur.

4. Perhatikan kondisi ATM

Anda harus memperhatikan dengan seksama ATM untuk memastikan keaslian slot kartu dan bukan tempelan. Terutama ketika sejumlah orang merasakan keanehan ketika memasukkan kartu ke ATM. Ini semua tentang kesadaran, memperhatikan, dan memahami resiko, karena semua ATM rentan terhadap penipuan.

Skimming tidak saja dilakukan dengan mengakali mesin ATM. Aksi skimming juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan celah kemanan pada mesin Electronic Data Capture (EDC) yang biasa terdapat di kasir-kasir toko.

Ada dua metode dalam melakukan skimming pada mesin EDC. Yang pertama tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan pada mesin ATM, yaitu dengan menyematkan alat skimmer khusus pada mesin EDC. Skimmer tersebut akan menyalin data pita magnetik dari kartu kredit yang digesekkan di mesin EDC secara otomatis.

Yang kedua adalah sebuah metode bernama wire tapping. Metode ini bertujuan untuk menyadap saluran komunikasi data antara koneksi mesin EDC dan mesin kasir menuju bank atau lembaga keuangan yang dituju.

Dijelaskan oleh laman Slashdot, pelaku skimming akan memasang alat penyadap dan perekam data di salah satu titik pada jaringan komunikasi transaksi, seperti telepon, PABX (Private Automatic Branch Exchange) atau LAN (Local Area Network), yang terhubung dengan jaringan EDC.

Saat konsumen bertransaksi di mesin EDC yang sudah disadap, maka seluruh informasi dapat disalin. Selanjutnya, mereka akan membuat kartu tiruan berisi data yang sudah disalin tadi dan melakukan transaksi.

Mengutip laman Investigation, teknik wire tapping sebenarnya sulit dilakukan tanpa keterlibatan orang dalam, khususnya pihak perbankan. Pasalnya di tiap-tiap jalur komunikasi EDC telah dibekali oleh teknik enkripsi yang dapat melindungi data agar tidak mudah dibaca orang lain.


Source: Liputan6.com
Enhanced by Zemanta

Bug Heartbleed Mengancam Pengguna Internet

Heartbleed bug, internet, security, cyber crime

Dunia internet kembali dihebohkan sejak keberadaan bug Heartbleed terungkap, yang mengancam komputer menjadi sasaran kejahatan online. Bug Heartbleed dapat digunakan oleh penjahat cyber untuk mencuri data sensitif seperti password.

Heartbleed bug mempengaruhi sejumlah besar layanan Internet. Kerentanan pada OpenSSL dapat dieksploitasi oleh penyerang untuk "mengelabui" server agar menyerahkan informasi sensitif, termasuk password dan isi dari komunikasi.

Berita tentang bug Heartbleed muncul pada tanggal 8 April, setelah beberapa profesional keamanan dan developer menyarankan orang untuk mengubah semua password. Kontan saja hal ini membuat sibuk aktivitas perusahaan web untuk memeriksa apakah sistem mereka sangat rentan terhadap bug Heartbleed.

Namun Google mengatakan bahwa login untuk layanan tidak perlu diatur ulang kecuali telah digunakan di situs lain.

Saran dari Google tersebut berbeda dengan saran dari developer aplikasi blogging Yahoo Tumblr dan Facebook yang menganjurkan pengguna untuk mengubah password mereka "di situs manapun".

Anjuran yang berbeda ini dibuat lebih rumit oleh para ahli yang mengungkapkan fakta bahwa memperbarui password tidak berguna kecuali situs telah di patched server nya.

Pola serangan 

Bug ini muncul dalam perangkat lunak yang harus terus menerus mengirimkan data antara situs dan pengguna. Dengan adanya bug Heartbleed, penyerang bisa menggunakan query khusus yang dibuat untuk perlahan-lahan mencuri data dari server.

"Sulit untuk mendeteksi serangan kecuali jika Anda secara aktif mencarinya," kata Ken Munro, seorang analis di perusahaan keamanan Pen Test Partners. Dia menambahkan bahwa banyak sistem deteksi intrusi sekarang telah menambahkan tanda tangan yang melihat tanda-tanda halus bahwa serangan yang diilhami Heartbleed sedang berlangsung.

Selain itu, organisasi lain yang bernama "honeypots" telah mencoba untuk mengelabui hacker yang menyerang server, kemudian mengarahkan nya ke web palsu, telah menulis kode yang menghasilkan data server yang tidak masuk akal dalam menanggapi permintaan Heartbleed.

Menurut data statistik dari perusahaan monitoring internet Netcraft, sekitar 500.000 server rentan terhadap bug Heartbleed. Banyak situs besar dengan server yang rentan sekarang telah melakukan patched pada sistem mereka.

Pengguna harus terlebih dahulu memeriksa apakah situs mereka menggunakan server yang rentan terhadap bug dan apakah server telah mengambil tindakan untuk memperbaikinya, kata James Lyne, kepala global riset di Sophos. Mengubah password pada situs yang tidak dilindungi masih terbuka untuk pencurian data, katanya.

Selain itu, ia menambahkan, terburu-buru mengubah password, cenderung untuk mendorong geng phishing untuk mulai mengirimkan pesan palsu menasihati orang untuk mereset atau mengubah password mereka.

"Ini bukan cacat pertama dari jenisnya dan tentu saja tidak akan menjadi yang terakhir, tapi itu adalah salah satu kesalahan yang lebih serius yang pernah kita lihat dalam sejarah internet baru-baru ini," kata Mr Lyne.

Bug Heartbleed dinamai oleh seorang engineer di perusahaan Codenomicon, sebuah perusahaan cybersecurity Finlandia, yang juga menciptakan logo Heartbleed, dan meluncurkan domain Heartbleed.com untuk menjelaskan bug tersebut kepada publik. Menurut Codenomicon, Neel Mehta dari Google yang pertama kali melaporkan bug Keamanan untuk OpenSSL, namun keduanya baik Google dan Codenomicon menemukannya secara mandiri.


source: BBC News, WikiPedia


Enhanced by Zemanta

Google Memperingatkan Target Baru Cyberattack


Cyberattack
Pada bulan Juni, banyak pengguna Google terkejut melihat tulisan yang tidak biasa di bagian atas kotak masuk Gmail mereka, di halaman home Google atau browser Chrome. "Peringatan: Kami percaya hal ini disponsori negara penyerang yang mungkin mencoba untuk berkompromi dengan akun atau komputer Anda."

Pada hari Selasa, lebih dari puluhan ribu pengguna Google mulai melihat pesan tersebut. Google mengatakan bahwa sejak saat itu mulai memperingatkan pengguna untuk serangan berbahaya yang mungkin disponsori negara seperti yang terjadi pada aktivitas serangan pada bulan Juni lalu , dimana telah mengambil lebih dari ribuan contoh cyberattacks yang telah diantisipasi.

Mike Wiacek, seorang manajer di tim keamanan  informasi Google, mengatakan dalam sebuah wawancara pada hari Selasa bahwa sejak Google mulai memperingatkan pengguna untuk serangan yang disponsori negara tiga bulan yang lalu, hal itu telah mengumpulkan intelijen baru tentang metode serangan dan kelompok yang mengerahkan mereka. Dia mengatakan Google menggunakan informasi tersebut untuk memperingatkan "puluhan ribu pengguna baru" bahwa mereka mungkin menjadi sasaran.

Beberapa orang, terutama banyak dari mereka adalah wartawan Amerika dan ahli kebijakan luar negeri telah menulis hal tersebut ke Twitter yang mengatakan mereka telah melihat peringatan itu. Nuh Schactman, editor keamanan nasional Wired blog dalam tweetnya : "Aku baru saja mendapat pemberitahuan dari Google 'Anda mungkin menjadi korban dari serangan yang disponsori negara.' Daveed Gartenstein-Ross, seorang ahli senior di Yayasan untuk Pertahanan Demokrasi, juga melaporkan mendapatkan pesan . Hal yang sama terjadi pada Joshua Foust, seorang pejabat di Proyek Keamanan Amerika, sebuah organisasi penelitian nirlaba, yang telah banyak menulis tentang Afghanistan.

Mr Wiacek mencatat bahwa Google telah melihat peningkatan aktivitas yang disponsori negara yang datang dari Timur Tengah. Ia menolak untuk menyebut negara-negara tertentu, tetapi ia mengatakan, kegiatan itu berasal dari wilayah tersebut.

Mereka temuan pelacakan dengan penemuan terbaru oleh peneliti keamanan yang negara Timur Tengah, termasuk Iran, Qatar, Uni Emirat Arab dan Bahrain, telah menggunakan spyware untuk memantau warga dan aktivis di luar negeri.

Pekan lalu, beberapa bank Amerika mendapatkan serangan cyber oleh hacker yang mengklaim berhubungan dengan Timur Tengah. Peneliti keamanan mengatakan mereka telah melihat peningkatan serangan cyber yang berasal dari wilayah tersebut. "Kami benar-benar telah melihat aktivitas lebih di Timur Tengah, dan khususnya Iran telah semakin aktif karena mereka membangun cybercapabilities mereka," kata George Kurtz, presiden CrowdStrike, sebuah perusahaan keamanan komputer, dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Wiacek mengatakan ada beberapa langkah bagi pengguna Google, terutama mereka yang mendapatkan peringatan tersebut, untuk melindungi diri mereka sendiri, seperti  mengubah  password akun e-mail, memungkinkan dua langkah layanan otentikasi Google dan menjalankan pembaruan perangkat lunak.

Virus Komputer Paling Canggih Ditemukan


Sebuah virus komputer baru yang disebut-sebut paling canggih ditemukan. Virus yang dijuluki Flame ini dilaporkan ditujukan untuk menyerang Iran dan beberapa negara di Timur Tengah.


Terlacak oleh vendor anti virus Kaspersky, virus ini dinyatakan sangat rumit, 20 kali lipat lebih powerful dibanding program cyberwarfare lain yang telah terdeteksi. Termasuk Stuxnet, virus yang pernah bikin heboh karena menyerang fasilitas nuklir Iran.

Karenanya, virus ini hampir dapat dipastikan dibuat pemerintah sebuah negara. Iran sendiri berulangkali menuduh negara barat dan Israel membuat program jahat untuk menyerang mereka. Selain Stuxnet, program jahat lain yang pernah menerjang Iran adalah Duqu.

Flame mempunyai kemampuan canggih. Seperti mengumpulkan data rahasia, mengubah setting komputer secara remote, menghidupkan mikrofon komputer untuk merekam pembicaraan, mengambil screenshot dan mengkopi pembicaraan di instant messaging.

Kapsersky sendiri minta bantuan untuk memahami virus ini. Mereka mengatakan kode virus 20 kali lipat ukuran kebanyakan software program jahat. Virus ini sejatinya sudah beredar sejak 5 tahun lalu dan menginfeksi komputer di Iran, Israel, Sudan, Syria, Libanon, Arab Saudi serta Mesir.

"Jika Flame tidak ditemukan selama lima tahun, kesimpulan logisnya adalah ada operasi lain yang sedang berlangsung yang tidak kami ketahui," kata Roel Schouwenberg, periset sekuriti senior Kaspersky.

Profesor Alan Woodward dari jurusan ilmu komputer University of Surrey membenarkan kerumitan virus Flame. Program jahat ini bisa menggaet informasi dengan mengkopi ketikan di keyboard dan suara orang di sekitar.

Virus ini tidak dibuat oleh remaja di kamarnya. Virus ini besar, kompleks dan ditujukan untuk mencuri data sambil tetap tersembunyi dalam waktu lama.

Daftar Aplikasi Android yang Mengandung Virus

Popularitas Android yang kian membubung dimanfaatkan para penjahat cyber melancarkan aksinya, misalnya dengan menyebarkan virus untuk mengintai para calon korban.


Symantec baru saja merilis daftar aplikasi yang mengandung virus. Beberapa di antaranya masih beredar luas di Android Market. Symantec juga membuat laporan yang menyatakan bahwa jumlah perangkat Android yang telah terinfeksi kini sudah mencapai 5 juta unit. Jenis virus yang paling banyak menyerang adalah Counterclank. Program jahat ini memiliki kemampuan untuk mengunduh file khusus, dan mengirimkan informasi korbannya kepada sang pemilik virus tanpa diketahui.

Penyebaran virus Counterclank pun tergolong cepat. Sebab, selain dibuat keroyokan oleh 3 developer berbeda yakni, iApps 7 inc, Ogre Games, dan redmicapps , virus ini juga disebarkan melalui Android Market.


Counterclank saat ini masih ada di beberapa game dan aplikasi di Android market. Berikut 13 aplikasi yang mengandung virus tersebut:


Counter Elite Force
Counter Strike Ground Force
CounterStrike Hit Enemy
Heart Live Wallpaper
Hit Counter Terrorist
Stripper Touch girl
Balloon Game
Deal & Be Millionaire
Wild Man
Pretty women lingerie puzzle
Sexy Girls Photo Game
Sexy Girls Puzzle
Sexy Women Puzzle

Sumber: 
http://google.com
http://beritateknologi.com
http://detikinet.com


Topik Lainnya: androidsoftware cyber crime internetsmartphone komputerteknologi

Daftar 25 Password Yang Rawan Dibobol Hacker

Password sangat identik dengan privasi. Oleh karena itu, pemilihan password haruslah hati-hati, jangan sampai password yang anda buat mudah dibobol oleh orang lain. SplashData, sebuah perusahaan yang menciptakan aplikasi manajemen data password baru-baru ini telah merilis daftar 25 password yang kerap digunakan dan tak jarang menjadi target para hacker jahat.



CEO SplashData, Morgan Slain menganjurkan kepada mereka yang menggunakan daftar 25 password tersebut untuk segera menggantinya. “Para hacker dapat dengan mudah membobol ke banyak akun dengan cara mencoba password yang umumnya sering digunakan secara berulang-ulang,” ujarnya seperti dikutip dari The Telegraph.

Akun jejaring sosial Facebook kerap menjadi sasaran empuk para hacker. Bulan lalu, terungkap bahwa ratusan hacker mencoba untuk mencari korban di jejaring sosial terpopuler ini. Sasarannya adalah untuk mendapatkan foto, pesan serta informasi personal lainnya.

Berikut ini adalah daftar password yang rawan dibobol Hacker hasil rilis dari SplashData:


1. password

2. 123456

3.12345678

4. qwerty

5. abc123

6. monkey

7. 1234567

8. letmein

9. trustno1

10. dragon

11. baseball

12. 111111

13. iloveyou

14. master

15. sunshine

16. ashley

17. bailey

18. passw0rd

19. shadow

20. 123123

21. 654321

22. superman

23. qazwsx

24. michael

25. football

Topik Lainnya: internetfacebook hackingkriminalkomputer


Menelusuri Jejak Forensik Digital

Jejak Forensik Digital, Cybercrimes
Cybercrimes always have cybertrails. Di era serba digital seperti sekarang ini, setiap kasus pasti memiliki jejak digital dan bisa dilacak.
Kasus pembunuhan aktivis HAM (Munir), pembunuhan David Hartanto Widjaja (mahasiswa NTU Singapura), kecurangan pajak, kasus Bank Century, hingga tersebarnya video biru artis papan atas Indonesia merupakan beberapa contoh kasus yang mengandalkan barang bukti digital dalam penyelesaiannya.
Tak banyak orang yang menganggap barang digital itu penting. Apalagi untuk orang awam yang hanya ngerti menggunakan perangkat tersebut. Namun, tidak demikian Ruby Alamsyah. Barang bukti digital merupakan santapan lezatnya. Sepak terjangnya di dunia forensik digital pun layak diacungi jempol. Banyak kasus besar yang ditangani Mabes Polri maupun Polda Jakarta melibatkan jasanya sebagai seorang Digital Forensic Analyst (DFA).
Seperti apakah seluk-beluk dunia forensik digital yang digeluti Ruby Alamsyah dan tokoh-tokoh lainnya? Apa urgensi profesi ini dalam penuntasan kasus-kasus kriminal?
Langka Pesaing
“Tugas saya sebagai DFA adalah menganalisis barang bukti digital yang ditemukan polisi,” terang Ruby. “Untuk kasus video yang baru-baru ini terjadi, tugas saya tentu melacak siapa yang menjadi penyebar pertama, berikut barang bukti lainnya yang memiliki memori. Kalau menganalisis keaslian foto/video bukan wewenang saya,” imbuh pria kelahiran Jakarta, 23 November 1974 ini.
Peranan seorang ahli forensik digital di era teknologi seperti saat ini, boleh jadi terbilang penting. Ilmu forensik memiliki andil yang besar dalam menganalisis barang bukti digital. Turunan ilmu IT Securityini memang bertugas menganalisis barang bukti digital secara ilmiah demi menemukan bukti suatu tindak kejahatan. Barang bukti tersebut tentu harus dapat dipertanggungjawabkan dengan baik di mata hukum.
Menurut Ruby, barang bukti digital yang bisa dianalisis tidak melulu notebook, tapi juga personalcomputer (PC), handphone, PDA, MP3 player, dan sebagainya. Menurut pria yang menjadi satu-satunya warga Indonesia anggota High Technology Crime Investigation Association/HTCIA ini, semuayang memiliki memori, baik itu memori internal maupun eksternal dapat dianalisis.
Digital Forensic Analyst (DFA)
Untuk masuk ke organisasi yang mayoritas anggotanya terdiri dari para polisi itu tidaklah mudah. Sebagian besar wajib memiliki track record baik dalam melewati kasus-kasus besar dan mengungkap jejak digital menjadi sebuah barang bukti yang kuat di pengadilan. Untuk menangani kasus besar pun harus ada referensi dari polisi atau penegak hukum di negara setempat, sejumlah sertifikasi yang dimiliki, sertaresume. Seluruh persyaratan tadi lalu dibawa ke semacam rapat komite. Nah, di sinilah baru ditetapkan apakah seseorang bisa menjadi member HTCIA atau tidak. Faktor inilah yang lantas memunculkan anggapan bahwa menjadi anggota HTCIA tidaklah mudah.  
Ruby sendiri sudah mengantongi 4 sertifikasi di bidang forensik digital, yaitu GCIH (GIAC Certified Incident Handler) dari SANS Institute, USA; GCFA (GIAC Certified Forensic Analyst) dari SANS Institute, USA; CHFI (Computer Hacking Forensic Analyst) dari EC-Council, USA; ENCE (Encase Certified Examiner), dari Guidance Software; dan ACE (Accessdata Certified Examiner), dari AccessData.
Untuk mendapatkan sertifikasi-sertifikasi tersebut, sebagian besar harus melalui training resmi terlebih dahulu. Setiap training pun berbeda jangka waktunya. “Rata-rata 1 sampai dengan 2 minggu. Itu hanya training saja, untuk ujiannya ada yang mengambil langsung setelah training, ada juga yang menunggu beberapa waktu untuk belajar lebih detail lagi baru mengambil ujiannya,” jelas Ruby.
“Ada satu sertifikasi DF yang setelah lulus ujian tertulis, akan diberikan ujian praktik (dengan barang bukti digital Asli) dan diberi waktu selama 60 hari untuk menyelesaikannya,” ungkapnya. Sertifikasi di sini sebenarnya adalah sebagai penunjang/pendukung keahlian seseorang. Pada akhirnya pendidikan formal dan pengalaman jualah yang akan menentukan porsi keahlian seseorang. Artinya untuk menjadi seorang DFA, seseorang minimal harus memiliki latar belakang pendidikan TI.
Diakui Ruby, dirinya tertarik dengan forensik digital karena pesaingnya masih sedikit. Orang yang seperti Ruby memang masih sedikit. Pasalnya banyak orang TI yang enggan bersentuhan dengan dunia kepolisian, politisi, maupun hukum di Indonesia. Klien seorang DFA pun tidak sebarangan. “Klien saya sejak tahun 2006, sebagian besar adalah penegak hukum (Polri dan Kejaksaan. red). Mulai tahun 2009 sudah mulai banyak klien korporasi maupun klien individu. Saya sudah pernah menjadi saksi ahli di persidangan kasus perdata dan pidana (di pengadilan negeri.red), serta pengadilan di Badan Arbitrase Nasional,” urainya. Ruby juga bercerita, dirinya bahkan sempat mendapat bayaran 5 ribu dolar untuk tiga puluh menit.


Melacak Penyebar Pertama Video
Khusus untuk kasus tersebarnya video syur yang lalu, tugas seorang DFA adalah melacak pelaku penyebar pertama yang meng-upload video. Yang pertama-tama dilakukan adalah melakukan analisis/riset secara mendalam dan menyeluruh guna mengetahui siapa individu yang lebih dahulu memiliki file tersebut. Langkah yang ditempuh misalnya melakukan pelacakan awal mula penyebaran (dari yang melakukan penyebaran pada hari H), lalu meruut dan melacak siapa yang memiliki data tersebut paling awal.
Dalam hal ini sangat dimungkinkan untuk juga melacak IP address bila tidak diketahui secara pasti siapa individu tersebut. Untuk memudahkan pekerjaan, seorang DFA diperbolehkan melakukan kerjasama dengan ISP terkait yang memiliki log pelanggannya. ID-SIRTII pun bisa dimintai bantuan guna mendapatkan data lebih lanjut. Dari sini akan bisa menjadi peringatan bagi kita untuk tidak sebarang mengunggah foto/video ke dunia maya.
Seperti prajurit yang sedang bertempur, seorang DFA juga menggunakan "senjata" dalam melakukan pelacakan. Ruby menjabarkan aneka software yang digunakan biasanya tergantung dari kebutuhan setiap kasus. Namun, bila sudah mendapatkan barang bukti digital secara fisik, baru dilakukan proses forensik digital secara detail. Namun sebelum itu, tekniknya bisa menggunakan e-discovery.
Bagi yang masih awam, e-discovery merupakan teknik pencarian data elektronik, di mana data elektronik tersebut ditempatkan/berada, serta bagaimana mengamankan dan menyitanya untuk dapat dijadikan barang bukti pada sebuah kasus. E-discovery dapat dilakukan pada komputer tertentu, atau pun pada jaringan tertentu. Pada bidang forensik digital, e-discovery merupakan proses investigasi yang dilakukan terhadap harddisk pada komputer tertentu. Barang bukti tersebut selanjutnya mengalami proses kloning (forensic imaging).
Perangkat yang digunakan untuk melakukan computer forensic dan mobile phone forensic pun berbeda. “Untuk computer forensic, saya menggunakan Encase v6.15, FTK 3, Sleuthkit-Autospy, Helix, dd, Forensic Duplicator (Tbleau-TD1), Forensic Write Blocker, dan lain-lain. Sementara untuk [melakukan] mobile phone forensic, [saya] menggunakan Cellbrite, XRY/XACT, Paraben Device Seizure, Bitpim, dan lain-lain,” jelasnya.
Adakah kesulitan yang dialami? Pasti ada. Biasanya Ruby mengalami kendala ketika menjumpai aneka file yang tersembunyi (steganography) dan terenkripsi. “Seperti layaknya criminal non-cyber, biasanya sepintar-pintarnya penjahat pasti akan meninggalkan jejak. Tinggal sepintar-pintarnya tim penyidik untuk mendapatkan jejak apa yang tertinggal,” jelas pria yang biasa mengisi waktu senggangnya dengan membaca buku dan menonton film ini. Ada tools dan teknik-teknik tertentu untuk menyiasati masalah tersebut. Misalnya untuk menghadapi steganography, penyelidik bisa menggunakan software “Steg-detect” guna mendapatkan file tersembunyi tersebut.
Demikian halnya untuk pelaku tindak kejahatan cyber yang menggunakan jaringan wireless. Pelacakan dapat dilakukan dengan mencari log serta data-data lain, misalnya berupa CCTV tempat jaringan itu berada. Lalu, bagaimana jika yang dilacak adalah individu yang sedang menggunakanmobile phone? “Tentu saja pelacakan bisa dilakukan secara remote/mobile,” tegas Ruby.
Ruby juga menjelaskan proses penyelidikan setiap tindak kejahatan cyber sudah pasti membutuhkanbandwidth. Namun menurutnya, bandwidth bukanlah hal utama, pun tidak perlu menggunakanbandwidth besar-besar, karena bukan untuk melakukan offensive attackBandwidth hanya dibutuhkan untuk koneksi internet saja, tidak lebih.


Prosedur Forensik Digital 
Seperti juga pekerjaan profesional lainnya, seorang DFA harus mematuhi peraturan keanggotaan yang sudah ditetapkan.“Jika saya melanggar, saya bisa dikeluarkan dari keanggotaan (HTCIA, red),” beber Ruby.
Istimewanya, seorang DFA dapat memberikan masukan kepada penegak hukum tentang barang bukti digital apa saja yang mungkin terkait dalam sebuah kasus, selain merekomendasikan proses penyitaan, melakukan proses cloning barang bukti digital, melakukan proses analisis, membuat laporan, sampai menjadi saksi ahli di persidangan bila dibutuhkan.
Dalam menjalankan tugasnya, ada 4 (empat) langkah yang menjadi prosedur operasional standar (standard operating prochedure/SOP) seorang DFA. Pertama, mengkloning barang bukti digital yang sudah ada di polisi. Kloning di sini menggunakan metodologi khusus byte by byte copy cloning. Kedua, menganalisis barang bukti dari barang duplikasi. Jadi bukan barang bukti asli yang diteliti karena bisa rusak. Jika barang bukti asli rusak, kasus bisa gagal. Barang bukti berubah satu bytesaja bisa rusak dan dianggap tidak valid. Ketiga, melakukan proses recovery dan analisis lebih lanjut. Keempatmelakukan reporting. Ruby menambahkan bahwa analisis harus dilakukan pada barang bukti duplikasi, bukan yang asli. Hal ini untuk menghindari kehilangan/perubahan/kerusakan data pada barang bukti asli.
Menariknya, bidang forensik digital ini mengawinkan dua disiplin ilmu, yakni ilmu komputer dan ilmu hukum. Untuk Indonesia, pasar seperti ini masih sangat luas. “IT di Indonesia ke depannya bersinggungan dengan dunia hukum, which is every day akan selalu ada potential market,” tegas Ruby. Mulai dari penegak hukun, kuasa hukum, sampai korporasi maupun individu menjadi pasar potensial (potential market) dari forensik digital (digital forensic). Tidak dapat dipungkiri pula bahwa tindak kriminal setiap hari semakin meningkat. Apalagi melihat ketergantungan individu terhadap perangkat teknologi yang semakin meningkat pula. Dapat dipastikan pula bahwa kemungkinan besar di setiap kasus kriminal mana pun, akan terdapat barang bukti digital yang dapat dianalisis dengan forensik digital.
Mewakili seorang DFA, Ruby mengaku masih memiliki impian yang ingin dicapai. Nantinya, ia berharap Indonesia dapat segera memiliki aturan/guideline tentang proses penanganan barang bukti digital (yang tepat dan baik bagi penegak hukum pada khususnya). UU ITE serta RUU Tipiti dapat menjadi batu pijakan untuk dapat segera merealisasikan aturan tersebut. Pada akhirnya semua kasus yang berhubungan dengan barang bukti digital dapat ditangani dengan tepat dengan integritas yang terjaga secara utuh. (*)


Melacak Wajah
Ilmu forensik tidak melulu harus terkait dengan notebook/harddisk. Apalagi jika barang bukti tindak kejahatan berhubungan dengan foto/video. Biasanya yang digunakan adalah forensik bidang kedokteran. Misalnya saja kasus bom bunuh diri teroris atau tersebarnya video biru yang lalu. Untuk mengungkap kasus seperti itu, digunakanlah suatu teknik bernama superimposed. Di sinilah kemampuan seorang ahli seperti drg. Peter Sahelangi, DFM (Senior Superintendent ( Ret )Forensic Odontologist) diperlukan.
Superimposisi Cranio Facial
Superimposisi Cranio Facial  adalah suatus sistem pemeriksaan untuk menentukan jati diri seseorang dengan membandingkan foto korban/rekaman video semasa hidupnya (ante mortem) dengan tengkorak/ jenazah korban yang ditemukan kemudian (post mortem),” jelas mantan Kepala Rumah Sakit (RS) Polri tahun 1976-2008 ini.
Prinsip kerjanya yaitu dengan cara membandingkan titik anatomis dalam wajah/tengkorak yang tidak bisa berubah/diubah kemudian ditumpangtindihkan/ superimposed (dengan teknik-teknik tertentu dan alat-alat tertentu yang disebutskull mounting & orientation device (SMOD). Teknik ini dapat dilakukan pada jenazah dan tentu saja orang yang masih hidup.
Yang bisa melakukan teknik ini pun tidak sebarangan orang. Untuk melakukan hal ini, diperlukan seorang yang setidaknya memiliki pengetahuan anatomi tubuh secara baik, misalnya dokter/dokter gigi. Ilmu forensik yang dimiliki Peter diakuinya didalami dengan cara kursus. Itu pun gampang-gampang susah. Menurutnya, orang tersebut juga harus mengenal pribadi si expert atau berkawan dengan mereka, baru mereka mau terbuka menularkan ilmunya.
Peter juga bercerita mengenai kasus yang heboh sekarang, yang dulu juga pernah terjadi di Malaysia (saat video seks seorang pejabat dengan artis-artis Malaysia tersebar). Alat yang digunakan pun sama, yakni menggunakan SMOD.
Untuk melakukan analisis terhadap foto/gambar, tidak ada prosedur khusus seperti seorang DFA (yang harus melalui empat tahap). “Yang penting ada surat permintaan dari penyidik, [baru akan] kami laksanakan,” jelas pria kelahiran 60 tahun silam ini. Selain SMOD, masih ada beberapa perangkat lain yang digunakan, seperti video dan komputer dengan program Adobe Photoshop.
Lamanya waktu analisis pun berbeda-beda. “Tergantung sulit tidaknya kasus dan kualitas foto pembanding, posisi, dan lain-lain. [Lamanya proses] bisa [berlangsung] beberapa jam, bisa juga beberapa hari,” terang Peter. Sebagai seorang expert, Peter hanya menjawab cocok atau tidaknya titik-titik anatomisnya. “Soal asli atau tidaknya bukan wewenang kami,” tegas pria yang kini menjadi dosen Bagian Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran UNHAS Makassar serta dosen terbang di beberapa fakultas kedokteran gigi beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Hampir setiap pekerjaan memiliki kendala masing-masing. Bagi Peter, kendala yang kerap ia hadapi misalnya jika korban tidak pernah difoto seumur hidupnya (untuk korban yang sudah meninggal). “Ada kasus pembunuhan di Ambon yang tengkoraknya dikirim pada kami, tapi korban tidak pernah mempunyai foto/tidak pernah difoto,” jelas Peter. “Kualitas foto yang sangat jelek, tengkorak yang ditemukan sudah hancur tidak berbentuk kepala manusia lagi. Posisi korban yang tidak optimal, misalkan menyamping, tertutup orang lain juga menjadi kendala,“ tukasnya. (*)


Menantang Kejelian Mata
Video heboh yang tersebar beberapa waktu lalu, sempat memicu kecurigaan publik terhadap si pelaku yang ada di video tersebut.
Sebagai awam, pasti ada di antara kita yang langsung menuding, “ Ya, benar itu si A, atau itu memang si B. Gosip baru, nih.”Padahal kenyataannya, belum tentu itu si A atau si B. Bisa saja si C. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik khusus untuk membuktikannya.
“Menganalisa video bisa menggunakan setting slow motion, contohnya menggunakan Windows Media Player (WMP). Dengan slow motion  ini, akan keliatan asli atau tidaknya gerakan tersebut,” ujar Abimanyu Wachjoewidajat, pria yang kerap dimintai keterangan terkait analisa foto/ video. 
Gambar yang ada di video tersebut kemudian di-compare dengan foto lainnya yang dicari di internet. “Ukurannya pun harus sama, tidak boleh berbeda,” tukas pria yang akrab di sapa Abah ini. Tugas selanjutnya adalah mencocokkan posisi. Untuk analisis dengan teknik slow motion ini, tidak melulu menggunakan WMP, dapat juga menggunakan Winamp atau Windows Media Classic yang ada di komputer kita. “Apa saja bisa, asal media tersebut bisa [melakukan teknik] slow motion agar ketika gambar diperbesar tidak pecah,” imbuh Abimanyu.  
Sementara untuk menganalisis foto, bisa menggunakan teknik morphing. “Dengan demikian posisi mata, hidung, bibir akan kelihatan kemiripannnya,” jelas Abimanyu. “Menggunakan teknik morphingini juga tidak boleh memaksa, karena kalau memaksa hasil gambarnya tidak valid,” tegas pria yang pernah menjabat sebagai Data Center Manajer PT. Excelcomindo ini. Proporsinya pun harus sama. Misal naik 5 persen dan ke kanan 5 persen. Itu harus sama.
Menganalisis foto/video, dijelaskan Abimanyu harus dalam suasana tenang. Jadi tidak bisa dilakukan secara mobile karena akan susah. Kendala lainnya adalah dalam menganalisis kemiripan. Contohnya gambar. Selain itu adalah mencari gambar-gambar lainnya yang mirip melalui internet. Abimanyu juga menyatakan bahwa dalam menganalisis foto/gambar, kita tidak bisa melakukannya secara asal-asalan.

Komputer Forensik Untuk Investigasi Kejahatan Komputer

Komputer Forensik, cybercrime
Sejak pertumbuhan world wide web di tahun 1991, kejahatan komputer berkembang melalui Internet. Jenis kejahatan yang dilakukan berupa penyebaran virus, pembobolan system (hacking), pemakaian kartu kredit secara ilegal (carding), sabotase terhadap perangkat digital, pencurian informasi suatu organisasi hingga cyberterrorism. Kejahatan melalui Internet ini berakibat bahwa kejahatan tersebut dapat dilakukan tampa terbatas jarak dan waktu. Pelaku kejahatan dapat melakukan kejahatannya di belahan benua lain dalam waktu kapanpun dia mau. Penanganan kejahatan komputer ini pun tidak dapat disamakan dengan penanganan kejahatan di dunia nyata.

Dalam dunia nyata, penyelidikannya dapat diacu dari “crime scene” atau tempat kejadian perkara (yang seringkali dipasang garis polisi berwarna kuning, dan bertuliskan “Do not cross/dilarang melintas”). Namun tidak demikian untuk kejahatan computer. Karena kejahatan komputer ini umumnya meninggalkan “jejak digital”, maka para ahli forensik komputer akan mengamankan barang bukti digital atau biasa disebut sebagai e-evidence (dan tampa perlu membuat garis polisi berwarna kuning). E-evidence dapat berupa computer, ponsel, kamera digital, harddisk, USB flash disk, memory card dan sebagainya.

Dalam penanganan e-evidence ini, diperlukan perlakuan khusus karena hamper semua informasi digital yang tersimpan di media, dapat dengan mudah berubah dan diubah-dan sekali terjadi perubahan, akan sulit untuk dideteksi atau dikembalikan dalam keadaan awalnya (kecuali telah dilakukan upaya-upaya untuk mencegah perubahan). Hal yang sering dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah menghitung nilai hash kriptografik yang berfungsi sebagai validasi keaslian data.

Beberapa perlakuan untuk menangani e-evidence yang lazim dilakukan adalah:
Memberikan write-blocker terhadap media yang hendak dianalisa sehingga tidak memungkinkan terjadinya penulisan/penambahan atau modofikasi data terhadap media tersebut.
Membuat image duplikat media tersebut (dan nantinya analisis dapat dilakukan terhadap image file yang dihasilkan).
Merekam semua chain of custody atau tindakan-tindakan yang dilakukan terhadap e-evidence yang ada.
Menggunakan perangkat yang telah diuji, dan dievaluasi untuk memastikan akurasi dan reabilitasnya.
Namun, penanganan e-evidence tidaklah dapat disamaratakan. Prosedur umum berlaku untuk proses forensik secara umum, sedangkan pada kasus-kasus khusus akan dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang khusus pula.

Metodologi Digital Forensik



Bukti digital (Digital Evidence) merupakan salah satu perangkat vital dalam mengungkap tindak cybercrime. Dengan mendapatkan bukti-bukti yang memadai dalam sebuah tindak kejahatan, sebenarnya telah terungkap separuh kebenaran. Langkah berikutnya adalah menindak-lanjuti bukti-bukti yang ada sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Bukti Digital yang dimaksud dapat berupa : E-mail, file-file dokumen kerja, spreadsheet, sourcecode dari perangkat lunak, Image, history web browser, bookmark, cookies, kalender.

Terdapat empat elemen forensik yang menjadi kunci pengungkapan bukti digital. Elemen forensik tersebut adalah :  identifikasi bukti digital,  penyimpanan bukti digital, analisa bukti digital, presentasi bukti digital.

Identifikasi Bukti Digital

Elemen ini merupakan tahapan paling awal dalam komputer forensik.  Pada tahapan ini dilakukan identifikasi dimana bukti itu berada, dimana bukti itu disimpan, dan bagaimana penyimpanannya untuk mempermudah penyelidikan. Network Administrator merupakan sosok pertama yang umumnya mengetahui keberadaan cybercrime sebelum sebuah kasus cybercrime diusut oleh fihak yang berwenang. Ketika pihak yang berwenang telah dilibatkan dalam sebuah kasus, maka juga akan melibatkan elemen-elemen vital lainnya, antara lain:

Petugas Keamanan (Officer/as a First Responder), Memiliki kewenangan tugas antara lain : mengidentifikasi peristiwa,mengamankan bukti, pemeliharaan bukti yang temporer dan rawan kerusakan.
Penelaah Bukti (Investigator), adalah sosok yang paling berwenang dan memiliki kewenangan tugas antara lain : menetapkan instruksi-instruksi, melakukan pengusutan peristiwa kejahatan, pemeliharaan integritas bukti.
Tekhnisi Khusus, memiliki kewenangan tugas antara lain : memeliharaan bukti yang rentan kerusakan dan menyalin storage bukti, mematikan(shuting down) sistem yang sedang berjalan, membungkus/memproteksi bukti-bukti, mengangkut bukti dan memproses bukti.
Ketiga elemen vital diatas itulah yang umumnya memiliki otoritas penuh dalam penuntasan kasus cybercrime yang terjadi.

Penyimpanan Bukti Digital

Barang bukti digital merupakan barang bukti yang rapuh. Tercemarnya barang bukti digital sangatlah mudah terjadi, baik secara tidak sengaja maupun disengaja. Kesalahan kecil pada penanganan barang bukti digital dapat membuat barang bukti digital tidak diakui di pengadilan. Bentuk, isi, makna dari bukti digital hendaknya disimpan dalam tempat yang steril. Hal ini dilakukan untuk benar-benar memastikan tidak ada perubahan-perubahan. Sedikit terjadi perubahan dalam bukti digital, akan merubah hasil penyelidikan. Bukti digital secara alami bersifat sementara (volatile), sehingga keberadaannya jika tidak teliti akan sangat mudah sekali rusak, hilang, berubah, mengalami kecelakaan. Langkah pertama untuk menghindarkan dari kondisi-kondisi demikian salah satunya adalah dengan melakukan copy data secara Bitstream Image pada tempat yang sudah pasti aman. Bitstream image adalah metode penyimpanan digital dengan mengkopi setiap bit demi bit dari data orisinil, termasuk File yang tersembunyi (hidden files), File temporer (temp file), File yang terdefragmen (fragmen file), dan file yang belum ter-overwrite. Dengan kata lain, setiap biner digit demi digit di-copy secara utuh dalam media baru. Teknik pengkopian ini menggunakan teknik Komputasi CRC. Teknik ini umumnya diistilahkan dengan Cloning Disk atau Ghosting.

Analisa Bukti Digital

Barang bukti setelah disimpan, perlu diproses ulang sebelum diserahkan pada pihak yang membutuhkan. Pada proses inilah skema yang diperlukan akan fleksibel sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi. Barang bukti yang telah didapatkan perlu di-explore kembali kedalam sejumlah scenario yang berhubungan dengan tindak pengusutan, antara lain: siapa yang telah melakukan, apa yang telah dilakukan (Contoh : penggunaan software apa saja), hasil proses apa yang dihasilkan, waktu melakukan). Secara umum, tiap-tiap data yang ditemukan dalam sebuah sistem komputer sebenarnya adalah potensi informasi yang belum diolah, sehingga keberadaannya memiliki sifat yang cukup penting. Data yang dimaksud antara lain : Alamat URL yang telah dikunjungi,  Pesan e-mail atau kumpulan alamat e-mail yang terdaftar, Program Word processing atau format ekstensi yang dipakai,Dokumen spreedsheat yang dipakai, format gambar yang dipakai apabila ditemukan, Registry Windows, Log Event viewers  dan Log Applications,File print spool.

Presentasi Bukti Digital

Kesimpulan akan didapatkan ketika semua tahapan telah dilalui, terlepas dari ukuran obyektifitas yang didapatkan, atau standar kebenaran yang diperoleh, minimal bahan-bahan inilah nanti yang akan dijadikan “modal” untuk bukti di pengadilan.  Selanjutnya bukti-bukti digital inilah yang akan  dipersidangkan, diuji otentifikasi dan dikorelasikan dengan kasus yang ada. Pada tahapan ini semua proses-proses yang telah dilakukan sebelumnya akan diurai kebenarannya serta dibuktikan kepada hakim untuk mengungkap data dan informasi kejadian.


Topik Lainnya:  cyber crime internetprogramsoftware komputerteknologi